Smart Move, Crowd Sourcing Human Interests and Make It As A Political Movement.

Pemilu Versus Kepentingan

Sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa jaman sekarang politik adalah alat untuk mencapai kepentingan oleh pihak tertentu. Namun, sampai saat ini belum ada yang cukup jeli melihat bahwa ternyata kepentingan masyarakat banyak belum cukup diperjuangkan. Karena biar bagaimanapun, setiap kompetisi dalam alam demokrasi bergerak dengan sistem kapitalisme. Artinya, hanya kepentingan kalangan tertentu yang akan menjadi prioritas sang pemenang. Entah itu aktivis, relawan, partai-partai politik, atau pun pemodal yang memiliki kepentingan pada kebijakan publik.

Sekarang sudah tidak bisa lagi menjadi munafik dengan mengatakan bahwa seseorang memilih calon tertentu tanpa ada muatan kepentingan didalamnya. Hanya ada sedikit sekali kaum idealis yang dengan integritas tinggi mengajak dan mempengaruhi orang-orang lain untuk memilih calon pemimpin untuk tujuan yang lebih besar.

Hidup sudah berat untuk menjadi idealis.

Pahit, tapi begitulah kenyataannya. Bahkan sampai ke lapisan paling dasar sudah tercemar oleh politik praktis, bahkan cenderung pragmatis karena alasan mereka memilih adalah untuk sesuatu yang menguntungkan mereka, bisa berupa sembako, proyek-proyek, atau pun fasilitas-fasilitas lain. “Money politic is just the appetizer, not the main course”.

Sayangnya, kultur di Indonesia menjadikan itu sebagai sebuah hak khusus yang berlaku eksklusif kepada para pendukung atau para relawan. Belum adanya kesadaran bahwa hak-hak tersebut adalah keadilan sosial, dan harusnya untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa pengecualian. Namun fakta yang terjadi adalah pendistribusian kebijakan dari pihak yang berkuasa tetap tidak pernah proporsional dan berdampak luas. Kekhususan ini yang menjadi bergengsi di setiap entry level masyarakat. Bahkan sekelas Prof. Mahfud MD pun sampai merasa tidak berhak hanya karena alasan “dulu bukan pendukung” atau dalam bahasa beliau “belum mengeluarkan keringat”. Padahal beliau ditawari jabatan menteri dalam kapasitas-nya sebagai ahli hukum negara. Inilah alam nyata sistem kenegaraan kita, pahit tapi ini fakta. Suatu budaya luhur yang mengubur kesejahteraan rakyat banyak, “sopan santun dan tak enak hati”.

(Tulisan ini sebenarnya terbengkalai selama 2 tahun, jadi mohon maaf apabila ada data yang sudah tidak valid).

--

--

A full-time husband and dad who like to code for some money. Currently being entrusted as an Engineering Manager at an awesome team.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store